STUDI LITERATUR TANTANGAN DALAM PENERAPAN KURIKUM MERDEKA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Penulis

  • Dewi Syafriani Universitas Negeri Medan
  • Michelle Karunia Sinaga Universitas Negeri Medan
  • Habibah Ramadani Br Sebayang Universitas Negeri Medan
  • Anjelina Olimvia Universitas Negeri Medan
  • Enjelita Maharaja Universitas Negeri Medan

Kata Kunci:

Kurikulum Merdeka, Tantangan, Merdeka Belajar

Abstrak

Kurikulum Merdeka, yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek, dirancang sebagai respons terhadap tantangan Revolusi Industri 4.0 dan era Masyarakat 5.0. Implementasi kurikulum ini di Sekolah Menengah Atas (SMA) menghadapi berbagai hambatan, termasuk kesiapan guru, keterbatasan sumber daya, dan pemahaman konseptual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan-tantangan tersebut dan merumuskan strategi optimalisasi implementasi Kurikulum Merdeka di SMA. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka terkendala oleh kurangnya pelatihan guru yang memadai, rendahnya motivasi, dan optimalisasi sumber daya yang belum maksimal. Selain itu, praktik pembelajaran berdiferensiasi belum diimplementasikan secara optimal, sehingga menghambat kemampuan guru dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam. Kesimpulannya, Implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan komitmen yang kuat dari guru, yang dapat diwujudkan melalui pelatihan berkelanjutan dan kolaborasi antar guru, untuk memastikan implementasi yang sesuai dengan pedoman. Upaya untuk meningkatkan motivasi guru dan mengubah pola pikir juga diperlukan agar inovasi pembelajaran dapat berjalan efektif dan mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan.

The Merdeka Curriculum, initiated by the Ministry of Education and Culture, was designed as a response to the challenges of the Industrial Revolution 4.0 and the era of Society 5.0. The implementation of this curriculum in senior high schools (SMA) faces various obstacles, including teacher readiness, limited resources, and conceptual understanding. This research aims to identify these challenges and formulate strategies to optimize the implementation of Merdeka Curriculum in high schools. This research uses a qualitative descriptive approach. The results showed that the implementation of the Merdeka Curriculum was constrained by the lack of adequate teacher training, low motivation, and not optimal optimization of resources. In addition, differentiated learning practices have not been implemented optimally, thus hindering teachers' ability to meet students' diverse learning needs. In conclusion, implementing Merdeka Curriculum requires a strong commitment from teachers, which can be realized through continuous training and collaboration between teachers, to ensure implementation in accordance with the guidelines. Efforts to increase teacher motivation and change mindsets are also needed so that learning innovations can run effectively and achieve the stated educational goals.

Unduhan

Diterbitkan

2025-03-30