TRADISI LISAN MELAYU SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER: ANALISIS NILAI-NILAI MORAL DALAM CERITA RAKYAT
Kata Kunci:
Tradisi Lisan Melayu, Pendidikan Karakter, Cerita Rakyat, Nilai Moral, Pelestarian BudayaAbstrak
Kajian ini membahas peran tradisi lisan Melayu sebagai media pendidikan karakter dengan fokus pada nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita rakyat. Kajian didasari oleh pentingnya pelestarian tradisi lisan sebagai sumber kearifan lokal sekaligus sarana pembentukan karakter generasi muda. Tujuan nya adalah mengidentifikasi serta menganalisis nilai-nilai moral dalam cerita rakyat Melayu serta mengevaluasi efektivitas tradisi lisan dalam pendidikan karakter. Metode yang dipakai yakni metode penelitian sejarah yang mencakup Heuristik, Kritik Sumber, Interpretasi, dan Historiografi. Temuan mengindikasikan bahwa cerita rakyat Melayu memuat berbagai nilai moral, seperti kejujuran, kerja keras, serta rasa hormat, yang dapat dijadikan pijakan dalam pendidikan karakter. Selain itu, tradisi lisan terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai tersebut karena pendekatannya yang komunikatif dan kontekstual. Namun, pelestarian tradisi ini menghadapi tantangan modernisasi dan kurangnya regenerasi pendongeng, meskipun terdapat peluang melalui integrasi dalam sistem pendidikan formal dan pemanfaatan teknologi digital. Simpulannya, tradisi lisan Melayu memiliki potensi besar sebagai media pendidikan karakter, namun memerlukan strategi pelestarian yang inovatif untuk menjaga keberlangsungannya.
This study examines the role of Malay oral tradition as a medium for character education, focusing on the moral values contained in folklore. The study is based on the importance of preserving oral tradition as a source of local wisdom and a means of character development for the younger generation. The objective is to identify and analyze moral values in Malay folklore and evaluate the effectiveness of oral tradition in character education. The method used is historical research, encompassing heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings indicate that Malay folklore contains various moral values, such as honesty, hard work, and respect, which can serve as a foundation for character education. Furthermore, oral tradition has proven effective in instilling these values due to its communicative and contextual approach. However, the preservation of this tradition faces challenges from modernization and a lack of storyteller regeneration, despite opportunities through integration into the formal education system and the use of digital technology. In conclusion, Malay oral tradition holds great potential as a medium for character education, but requires innovative preservation strategies to ensure its sustainability.


