KEHIDUPAN SOSIAL DAN EKONOMI PENARI GANDRUNG DI TENGAH ARUS GLOBALISASI
(Studi Kasus Di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi Tahun 1968-2023)
Kata Kunci:
Tari Gandrung, Dinamika Sosial Ekonomi, Globalisasi, Desa KemirenAbstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika sosial ekonomi penari Gandrung di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, periode 1968–2023, serta mengidentifikasi tantangan dan strategi adaptasi mereka dalam menghadapi globalisasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis menggunakan tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penari Gandrung mengalami perubahan status sosial dari kelompok yang pernah distigmatisasi menjadi representasi identitas budaya dan ikon pariwisata Banyuwangi. Dari aspek ekonomi, profesi penari berkembang menjadi bagian dari industri ekonomi kreatif, meskipun masih menghadapi ketidakmerataan pendapatan, komersialisasi budaya, dan tantangan regenerasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan Tari Gandrung ditentukan oleh kemampuan adaptasi para penari melalui pelestarian nilai budaya, penguatan sanggar, diversifikasi mata pencaharian, dan pemanfaatan media digital. Temuan ini menegaskan pentingnya sinergi antara pelaku seni dan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal.
This study aims to analyze the socio-economic dynamics of Gandrung dancers in Kemiren Village, Banyuwangi Regency, during the period of 1968–2023, and to identify the challenges and adaptation strategies they employed in response to globalization. This research used a qualitative approach with a historical method. Data were collected through observation, in-depth interviews, documentation, and literature review, and analyzed using the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings reveal that Gandrung dancers have experienced a transformation in their social status, from a marginalized group to cultural icons and representatives of Banyuwangi's tourism identity. Economically, the profession has developed into part of the creative economy, although challenges remain, including unequal income distribution, cultural commercialization, and regeneration issues. The study concludes that the sustainability of the Gandrung dance depends on the dancers' ability to adapt through cultural preservation, strengthening dance studios, diversifying sources of income, and utilizing digital media. These findings highlight the importance of collaboration between cultural practitioners and the government in preserving local cultural heritage




