MENINGKATKAN KESADARAN REMAJA MELALUI EDUKASI PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI OLEH MAHASISWA KKN DI SMPN 5 ELAR, DESA LENGKO NAMUT
Kata Kunci:
Pernikahan Dini, Perkawinan Anak, Edukasi Remaja, Pendidikan, Kkn, Desa Lengko NamuAbstrak
Pernikahan dini (perkawinan anak) masih menjadi persoalan sosial yang berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan, kesehatan, kondisi psikologis, serta kehidupan sosial dan ekonomi remaja. Meskipun kebijakan pencegahan telah dikembangkan, praktik perkawinan anak masih ditemukan di berbagai lingkungan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng di Desa Lengko Namut dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa SMPN 5 Elar mengenai pengertian, faktor penyebab, dampak, dan upaya pencegahan pernikahan dini, serta mendorong siswa memprioritaskan pendidikan dan perencanaan masa depan. Metode yang digunakan adalah edukasi partisipatif yang terdiri atas persiapan, penyampaian materi, diskusi dan tanya jawab, refleksi, dan evaluasi deskriptif berdasarkan pengamatan partisipasi peserta. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme peserta yang tinggi, tampak dari keterlibatan selama penyampaian materi, keaktifan berdiskusi, dan keberanian mengajukan pertanyaan. Diskusi juga membantu meluruskan pemahaman yang kurang tepat tentang perkawinan, pendidikan, dan masa depan. Namun, peningkatan pengetahuan belum dapat diukur secara kuantitatif karena belum digunakan pre-test dan post-test. Edukasi partisipatif di sekolah dapat menjadi langkah awal membangun kesadaran remaja dan perlu dilanjutkan secara berkala dengan evaluasi terukur serta melibatkan keluarga dan masyarakat.
Early marriage, or child marriage, remains a social issue closely linked to adolescents’ educational continuity, health, psychological well-being, and social and economic conditions. Although prevention policies exist, child marriage persists in many communities. This community service activity was carried out by students of the Community Service Program (KKN) of Santu Paulus Catholic University of Indonesia, Ruteng, in Lengko Namut Village. It aimed to increase the understanding and awareness of students at SMPN 5 Elar regarding the definition, causes, impacts, and prevention of early marriage, and to encourage them to prioritize education and future planning. The activity applied a participatory educational approach consisting of preparation, material presentation, discussion and question-and-answer sessions, reflection, and a descriptive evaluation based on participant observation. The results showed high enthusiasm among participants, reflected in their engagement during presentations, active participation in discussions, and willingness to ask questions. The discussions also helped clarify misconceptions about marriage, education, and the future. However, knowledge gains could not be measured quantitatively because no pre-test and post-test were administered. Participatory school-based education can serve as an initial step in building adolescents’ awareness and should be continued periodically with measurable evaluation and the involvement of families and communities.




